بسم الله الرحمن الرحيم
Hari-hari
di bulan Juli 2015 menjadi hari yang sibuk bagi banyak orang, termasuk bagi
warga Sidasari – Sidaurip. Bagaimana tidak? Di tahun 2015 ini momen puasa Ramadhan
berlangsung sejak pertengahan bulan Juni, dan Hari Raya ‘Idul Fitri 1436 Hijriah
hadir di tengah bulan Juli. Warga Sidasari – Sidaurip yang sebagian besar
beragama Islam tentu menyambut dan merayakan momen tersebut dengan
sukacita dan kesibukan yang bermacam-macam. Keriuhan bahkan sudah mulai
terdengar sejak sekitar 3 bulan sebelum lebaran tiba. Orang-orang Sidasari –
Sidaurip yang sedang merantau di kota-kota seperti Jakarta, Bandung,
Surabaya atau di luar pulau Jawa, sudah mempersiapkan untuk mudik ke kampung
yang dirindukan. Tidak ketinggalan mereka yang berada di luar negeri seperti
Taiwan, Hongkong, Brunai, Singapura, Malaysia dan entah dimana lagi juga
mengabarkan ketidaksabarannya akan segera pulang ke desa. Mereka membuat status
di facebook, bahwa pada Badhan ini akan pulang untuk bertemu keluarga, saudara,
tetangga, teman atau kenalan. Kemudian semua orang dapat membacanya dan
berkomentar. Ohh.. betapa riuhnya desa Sidaurip (di dunia maya).
بسم الله الرحمن الرحيم
 |
| Mushala Darul 'Ulum |
Alhamdulillah, setelah lama sekali, hampir setahun tidak menulis di blog ini, akhirnya kali ini mendapatkan kesempatan lagi. Mengawali postingan di tahun 2015, saya ingin sedikit berbagi cerita tentang Sidasari-Sidaurip dan sekitarnya. Di penghujung tahun 2014, pada pertengahan bulan Desember lalu, saya berkesempatan pulang ke tempat kelahiran, kampung tercinta Sidasari-Sidaurip. Kesempatan yang pas untuk memutar memori masa kecil, dengan berkeliling ke sudut-sudut kampung tempat dulu dolanan dan kelayaban. Mencoba membandingkan keadaannya sekarang dengan gambaran keadaan waktu dulu yang masih tersimpan dalam otak. Berubah itu pasti, musim pun telah beranomali. Buat yang masa kecilnya dulu tumbuh di kampung ini pasti tau bagian mana yang telah hilang, sisi mana yang ditambah, atau apa yang baru di Sidasari-Sidaurip. Tetapi kalau saatnya pulang kampung tiba, merasakan suasananya mungkin membuat anda seakan menjadi anak kecil lagi. Begitupun saya, kalau sudah merasakan sejuknya rumah masa kecil, penginnya lanjut dolan-dolan meng terbis, niliki kali, sawah, Brug Menceng, Brug Kuning, Langgar, Pasar Grumung, Balai Desa, dan penjuru kampung lainnya. Dari Sidasari ke Gegangsari, Jambe Lima, Tumpangsari, Solokdungun, Sidaurip, dan Kuripan.
بسم الله الرحمن الرحيم
 |
| Areal pertanian di Sidasari-Sidaurip termasuk kategori sawah irigasi dan sedikit sawah tadah hujan |
بسم الله الرحمن الرحيم
Ini adalah dokumentasi saya saat
panen sadon tahun 2013.
Alhamdulillah, musim panen bagi petani di
Sidasari-Sidaurip kali ini mulai berlangsung sekitar bulan Agustus, bertepatan dengan moment Hari Raya Idul Fitri 1434H. Di
Sidasari-Sidaurip musim tanam dan panen hampir tidak pernah serempak, akan tetapi selalu dimulai dari daerah sebelah utara terlebih dahulu. Hal itu mungkin dikarenakan aliran irigasi yang mengarah dari utara ke selatan. Sehingga lahan persawahan yang berada di daerah utara lebih dulu terairi, baru kemudian daerah yang di selatan. Dengan begitu tentu saja yang di utara juga lebih dulu memulai tanam padi,
matun, nyemprot, mratak dan panen. Bahkan sudah biasa terjadi ketika sawah-sawah di daerah selatan seperti di
permohonan baru mulai panen, sawah-sawah di bagian utara justru sudah mulai musim tanam baru. Memang begitulah jalannya, kita bersyukur dapat memanen yang kita tanam.
Berikut ini dokumentasi di sawah wetan ndesa, pinggir kali Apur:
بسم الله الرحمن الرحيم
Rekasane wong tani Sidasari kalau tidak ada air, sawah-sawah mengering tidak dapat ditanami padi. Yang sudah terlanjur ditanami pun akan menjadi tidak produktif. Petani tidak dapat panen sehingga penghasilan berkurang. Itulah masa
paceklik.
Pada pertengahan tahun 2012 kemarin,
ketiga dawa (kemarau panjang) terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia termasuk di pulau Jawa. Di
Sidasari-Sidaurip selama kurang lebih setengah tahun tidak turun hujan. Hal tersebut mengakibatkan air tanah menurun dan lahan persawahan menjadi kering. Tanahnya
pada nela (retak-retak) menjadi
lungka (bongkahan tanah kering). Air dari irigasi yang diharapkan dapat mengairi sawah di musim kemarau, saat itu pun menjadi tidak mengalir. Hal itu dikarenakan debit air bendungan Menganti di sungai Citanduiy yang menjadi sumber irigasi juga rendah. Padahal sebelum
ketiga dawa mulai melanda, petani di
Sidasari-Sidaurip sedang memulai musim tanam
sadon (istilah untuk siklus tanam padi di musim kemarau). Di lahan persawahan pinggiran desa Sidasari-Sidaurip sebagian besar sudah
ditanduri. Sedangkan di lahan persawahan yang lebih ke selatan lagi seperti di
kidul ndesa, parat, permohonan, blabak dan yang lainnya baru tahap pengolahan tanah dan
nyebar.
Dampaknya pun sangat terasa bagi para petani. Modal yang sudah dikeluarkan untuk menanam padi saat itu tidak menghasilkan padi. Inilah beberapa gambar dari dampak
ketiga dawa di
Sidasari-Sidaurip.